MENCIPTAKAN
KEHARMONISAN
KELUARGA
Pdt. Sudiaro Laiya
A. APA ITU
KELUARGA YANG HARMONIS ?
Keluarga
harmonis adalah sebuah keluarga yang hidup dalam suasana rukun dan damai, serta
memiliki hubungan yang serasih diantara sesama anggota keluarga (bandingkan Maz 133:1-3).
B. BAGAIMANA
MENCIPTAKAN KELUARGA YANG HARMONIS ?
1.
Seia sekata dan seperasaan (I Petr 3:8)
Nats ini
berbunyi : “Dan akhirnya, hendaklah kamu
semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah
hati.” Dalam nats ini menunjukkan bagaimana sepatutnya hubungan antar
anggota-anggota jemaat, yang juga berlaku dalam kehidupan rumah tangga.
Pertama, “seia sekata.” Artinya, dalam rumah
tangga itu tidak ada yang bertindak sendiri-sendiri, atau menurut kehendak
masing-masing. Memang kita harus menyadari bahwa dalam keluarga sering terdapat
perbedaan pendapat dan pandangan, karena berbeda cara berpikir, namun harus
diusahakan secara musyawarah, agar terdapat hal-hal seia sekata. Di dalam hal
ini tentu ada yang mengalah, tanpa harus ada yang kalah. Jadi seia sekata sama
artinya dengan sehati sepikir, sependirian, sama-sama setuju.Tetapi semuanya
adalah di dalam Tuhan.Karena titik tolak untuk mencapai kesepakatan yang
sempurna ialah Tuhan sendiri.
Kedua, “seperasaan.” Contoh, seperti yang
dikatakan rasul Paulus dalam surat Roma 12:15 “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan
orang yang menangis!” Inilah arti
yang sebenarnya seperasaan. Jika kita telah dapat sepenanggungan dalam
penderitaan, tentu sudah lebih muda seperasaan di dalam sukacita. Kata
seperasaan dalam bahasa Yunani, aslinya “simpati.”
Dalam rumah tangga, sang suami haruslah menjadi simpatisan pertama terhadap
isterinya dan demikian juga sang isteri terhadap suaminya. Perlu kita hindari
bersama, agar jangan ada orang lain yang lebih simpati terhadap suami/isteri kita.
Kalau kita memiliki rasa simpati dan seperasaan, kita siap mengasihi dan menyayangi
dengan tulus. Tanpa adanya rasa simpati dan seperasaan dalam rumah tangga,
pasti pandangan kitapun dapat berubah. Dari pandangan positip menjadi negatip,
dari jiwa optimis menjadi pesimis. Masalah kecil dapat menjadi masalah besar.
Akibatnya terjadi emosi yang tidak terkendalikan, yang merugikan keluarga kita
dan pribadi kita sendiri. Keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga hilang.
Karena itu marilah kita memelihara rasa simpati dan seperasaan itu dalam
keluarga, karena sangat besar manfaatnya bagi semua pihak.
Ketiga, “rendah hati.” Rendah hati berarti
menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri (baca Filipi 2:3).
Betapa bahagianya rumah tangga itu, kalau sudah terdapat sifat rendah hati pada
setiap anggota keluarga. Suami selaku kepala rumah tangga bersikap rendah hati.
Sang ibu selaku ibu rumah tangga pun rendah hati. Anak sulung atau anak kedua
dan seterusnya sampai kepada anak bungsu, semuanya rendah hati. Sifat
menonjolkan diri akan lenyap. Kasih sayang semakin menebal. Damai dan sukacita
akan menaungi keluarga yang demikian.Dan
akhirnya
makanan pahit pun terasa manis. Kekurangan seseorang, tidak akan mengganggu
kerukunan dan keharmonisan dalam keluarga. Inilah keluarga yang harmonis dan
bahagia yang dikehendaki Tuhan.
2. Jangan hanya
memperhatikan kepentingan sendiri (Fil 2:4)
Nats itu
selengkapnya : “Dan janganlah tiap-tiap
orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain
juga.” Seseorang yang hanya mementingkan kepentingan sendiri tanpa
memperhatikan kepentingan orang lain, ia disebut egois. Kalau masing-masing
anggota keluarga mempertahankan egonya, di dalam rumah tangga itu, pasti
tidak terdapat keharmonisan dan
kebahagiaan. Guna mencapai keharmonisan dalam keluarga, kita harus bisa memberi
jawaban yang tepat dari tiga pertanyaan berikut : (1). Siapa orang pertama yang harus
memperhatikan kepentingan isteri? Jawabannya ialah....….. (2). Siapa orang pertama yang harus
memperhatikan kepentingan suami? Jawabannya ialah ......…(3). Dan siapakah orang pertama yang harus
memperhatikan kepentingan anak-anak? Jawabannya ialah ......... Kalau kita sudah tahu
menjawabnya dengan tepat, marilah kita melakukannya. Betapa harmonis dan
bahagianya suatu rumah tangga, bila yang demikian dilaksanakan, antara suami
dan isteri, antara isteri dan suami serta antara orang tua dan anak-anak.
3. Orangtua harus
menghindari pilih kasih terhadap anak-anak.
Sering terjadi
di dalam rumah tangga, orang tua lebih menyukai anak laki-laki dari pada anak
perempuan. Atau anak sulung dan anak bungsu lebih disayang dari pada anak-anak
lainnya. Atau ayah lebih mengasihi anak yang satu dan ibu lebih mengasihi anak
yang lain. Di dalam rumah tangga, orangtua
seharusnya memberi perhatian dan kasih sayang yang sama, terhadap semua anak;
tidak boleh membeda-bedakan mereka.
Jikalau tidak
demikian, pasti akan terjadi kecemburuan, pertengkaran, bahkan permusuhan di
antara anak-anak. Salah satu contoh dalam Perjanjian Lama adalah keluarga Ishak
dan Ribka. Ishak lebih suka kepada Esau dan Ribka lebih suka kepada Yakub (baca
Kej 25:28). Ishak lebih suka memberkati Esau sebelum ia mati, tetapi Ribka
lebih menginginkan agar Yakub yang diberkati sebelum ayahnya mati (baca Kej 27:
4 dan 10). Akibatnya Esau marah, dendam dan berencana membunuh Yakub adeknya
(baca Kej 27 : 41) dan Yakub terpaksa melarikan diri ke negeri Mesopotamia
selama lebih kurang dua puluh tahun. Oleh karena itu, supaya ada kerukunan dan
keharmonisan dalam rumah tangga, orangtua harus menghindari pilih kasih
terhadap anak-anak mereka.
4. Orangtua harus
bekerjasama mendidik anak dengan baik.
Dalam Amsal
29:15 dan 17 dikatakan : “Tongkat dan
teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.
Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan
mendatangkan sukacita kepadamu.” dan Amsal 22 : 6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa
tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Dalam mendidik anak perlu diperhatikan
dan dihindari : Apa yang dilarang oleh ibu, jangan diperbolehkan oleh Ayah. Apa
yang dikecam ayah, jangan disanjung ibu.
5. Membangun persekutuan
dengan Tuhan di dalam rumah tangga.
Persekutuan
dengan Tuhan di dalam keluarga adalah waktu dimana seluruh anggota keluarga
berkumpul bersama mendekatkan diri kepada Tuhan secara bersama-sama, baik pagi
hari maupun malam hari.
Entah itu
dengan berdoa bersama, memuji Tuhan bersama, mendengarkan pembacaan Alkitab
bersama, merenungkan dan mendiskusikan ayat-ayat Alkitab bersama.
Perkumpulan/persekutuan keluarga seperti
itu, sangat diperlukan, karena :
Pertama, Ketika
seluruh anggota keluarga berkumpul di dalam nama Tuhan, saat itu juga Allah
berkenan hadir di tengah-tengah keluarga itu. Kata Yesus : “Sebab
di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di
tengah-tengah mereka” (Matius 18:20).
Kedua, Dengan
hadirnya Allah dalam persekutuan keluarga, suasana batin setiap anggota
keluarga, diliputi oleh kuasa Roh Allah.
Ketiga, Jika kuasa
Roh Allah ada di dalam setiap pribadi anggota keluarga, lalu berkumpul memuji
dan memuliakan Tuhan Yesus, maka suasana sorgawi boleh dialami dan dinikmati.
Sebab, di mana Allah hadir, di sana ada suasana surgawi (baca Matius 6:10).
Keempat, jika dengan
setia melakukan persekutuan keluarga, terjadilah hubungan akrab dengan Tuhan
Yesus. Kalau terjalin hubungan akrab dengan Tuhan Yesus, Ia akan memberikan
kepada kita kuat kuasa Roh Kudus,
sehingga kita dapat menanggung semua penderitaan di dunia ini (baca
Filipi 4:13).
Kelima, Jika sudah
terjalin hubungan akrab dengan Tuhan Yesus, hubungan antara sesama anggota
keluargapun menjadi akrab, harmonis dan bahagia.
Tuhan memberkari rumah tangga dan keluarga anda. Amin.
Batam, 18 Juni 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar