Jumat, 17 Juni 2016

BIMBINGAN KELUARGA Oleh Pdt. Sudiaro Laiya


MENCIPTAKAN
KEHARMONISAN KELUARGA
Pdt. Sudiaro Laiya


A. APA ITU KELUARGA YANG HARMONIS ?

Keluarga harmonis adalah sebuah keluarga yang hidup dalam suasana rukun dan damai, serta memiliki hubungan yang serasih diantara sesama anggota keluarga (bandingkan Maz 133:1-3).


B. BAGAIMANA MENCIPTAKAN KELUARGA YANG HARMONIS ?

1.        Seia sekata dan seperasaan (I Petr 3:8)

Nats ini berbunyi : “Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati.” Dalam nats ini menunjukkan bagaimana sepatutnya hubungan antar anggota-anggota jemaat, yang juga berlaku dalam kehidupan rumah tangga.

Pertama, “seia sekata.” Artinya, dalam rumah tangga itu tidak ada yang bertindak sendiri-sendiri, atau menurut kehendak masing-masing. Memang kita harus menyadari bahwa dalam keluarga sering terdapat perbedaan pendapat dan pandangan, karena berbeda cara berpikir, namun harus diusahakan secara musyawarah, agar terdapat hal-hal seia sekata. Di dalam hal ini tentu ada yang mengalah, tanpa harus ada yang kalah. Jadi seia sekata sama artinya dengan sehati sepikir, sependirian, sama-sama setuju.Tetapi semuanya adalah di dalam Tuhan.Karena titik tolak untuk mencapai kesepakatan yang sempurna ialah  Tuhan sendiri.

Kedua, “seperasaan.” Contoh, seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam surat Roma 12:15 “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”  Inilah arti yang sebenarnya seperasaan. Jika kita telah dapat sepenanggungan dalam penderitaan, tentu sudah lebih muda seperasaan di dalam sukacita. Kata seperasaan dalam bahasa Yunani, aslinya “simpati.” Dalam rumah tangga, sang suami haruslah menjadi simpatisan pertama terhadap isterinya dan demikian juga sang isteri terhadap suaminya. Perlu kita hindari bersama, agar jangan ada orang lain yang lebih simpati terhadap suami/isteri kita. Kalau kita memiliki rasa simpati dan seperasaan, kita siap mengasihi dan menyayangi dengan tulus. Tanpa adanya rasa simpati dan seperasaan dalam rumah tangga, pasti pandangan kitapun dapat berubah. Dari pandangan positip menjadi negatip, dari jiwa optimis menjadi pesimis. Masalah kecil dapat menjadi masalah besar. Akibatnya terjadi emosi yang tidak terkendalikan, yang merugikan keluarga kita dan pribadi kita sendiri. Keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga hilang. Karena itu marilah kita memelihara rasa simpati dan seperasaan itu dalam keluarga, karena sangat besar manfaatnya bagi semua pihak.

Ketiga, “rendah hati.” Rendah hati berarti menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri (baca Filipi 2:3). Betapa bahagianya rumah tangga itu, kalau sudah terdapat sifat rendah hati pada setiap anggota keluarga. Suami selaku kepala rumah tangga bersikap rendah hati. Sang ibu selaku ibu rumah tangga pun rendah hati. Anak sulung atau anak kedua dan seterusnya sampai kepada anak bungsu, semuanya rendah hati. Sifat menonjolkan diri akan lenyap. Kasih sayang semakin menebal. Damai dan sukacita akan menaungi keluarga yang demikian.Dan
akhirnya makanan pahit pun terasa manis. Kekurangan seseorang, tidak akan mengganggu kerukunan dan keharmonisan dalam keluarga. Inilah keluarga yang harmonis dan bahagia yang dikehendaki Tuhan.    
 
2.      Jangan hanya memperhatikan kepentingan sendiri (Fil 2:4)

Nats itu selengkapnya : “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Seseorang yang hanya mementingkan kepentingan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, ia disebut egois. Kalau masing-masing anggota keluarga mempertahankan egonya, di dalam rumah tangga itu, pasti tidak  terdapat keharmonisan dan kebahagiaan. Guna mencapai keharmonisan dalam keluarga, kita harus bisa memberi jawaban yang tepat dari tiga pertanyaan berikut : (1). Siapa orang pertama yang harus memperhatikan kepentingan isteri? Jawabannya ialah....….. (2). Siapa orang pertama yang harus memperhatikan kepentingan suami? Jawabannya ialah ......…(3). Dan siapakah orang pertama yang harus memperhatikan kepentingan anak-anak? Jawabannya ialah ......... Kalau kita sudah tahu menjawabnya dengan tepat, marilah kita melakukannya. Betapa harmonis dan bahagianya suatu rumah tangga, bila yang demikian dilaksanakan, antara suami dan isteri, antara isteri dan suami serta antara orang tua dan anak-anak.

3.      Orangtua harus menghindari pilih kasih terhadap anak-anak.

Sering terjadi di dalam rumah tangga, orang tua lebih menyukai anak laki-laki dari pada anak perempuan. Atau anak sulung dan anak bungsu lebih disayang dari pada anak-anak lainnya. Atau ayah lebih mengasihi anak yang satu dan ibu lebih mengasihi anak yang lain. Di dalam rumah tangga, orangtua seharusnya memberi perhatian dan kasih sayang yang sama, terhadap semua anak; tidak boleh membeda-bedakan mereka.
Jikalau tidak demikian, pasti akan terjadi kecemburuan, pertengkaran, bahkan permusuhan di antara anak-anak. Salah satu contoh dalam Perjanjian Lama adalah keluarga Ishak dan Ribka. Ishak lebih suka kepada Esau dan Ribka lebih suka kepada Yakub (baca Kej 25:28). Ishak lebih suka memberkati Esau sebelum ia mati, tetapi Ribka lebih menginginkan agar Yakub yang diberkati sebelum ayahnya mati (baca Kej 27: 4 dan 10). Akibatnya Esau marah, dendam dan berencana membunuh Yakub adeknya (baca Kej 27 : 41) dan Yakub terpaksa melarikan diri ke negeri Mesopotamia selama lebih kurang dua puluh tahun. Oleh karena itu, supaya ada kerukunan dan keharmonisan dalam rumah tangga, orangtua harus menghindari pilih kasih terhadap anak-anak mereka.

4.      Orangtua harus bekerjasama mendidik anak dengan baik.

Dalam Amsal 29:15 dan 17 dikatakan : “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya. Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” dan Amsal 22 : 6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”  Dalam mendidik anak perlu diperhatikan dan dihindari : Apa yang dilarang oleh ibu, jangan diperbolehkan oleh Ayah. Apa yang dikecam ayah, jangan disanjung ibu.

5.      Membangun persekutuan dengan Tuhan di dalam rumah tangga.

Persekutuan dengan Tuhan di dalam keluarga adalah waktu dimana seluruh anggota keluarga berkumpul bersama mendekatkan diri kepada Tuhan secara bersama-sama, baik pagi hari maupun malam hari.
Entah itu dengan berdoa bersama, memuji Tuhan bersama, mendengarkan pembacaan Alkitab bersama, merenungkan dan mendiskusikan ayat-ayat Alkitab bersama. Perkumpulan/persekutuan  keluarga seperti itu, sangat diperlukan, karena :

Pertama, Ketika seluruh anggota keluarga berkumpul di dalam nama Tuhan, saat itu juga Allah berkenan hadir di tengah-tengah keluarga itu. Kata Yesus  : “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20).
Kedua, Dengan hadirnya Allah dalam persekutuan keluarga, suasana batin setiap anggota keluarga, diliputi oleh  kuasa Roh Allah.
Ketiga, Jika kuasa Roh Allah ada di dalam setiap pribadi anggota keluarga, lalu berkumpul memuji dan memuliakan Tuhan Yesus, maka suasana sorgawi boleh dialami dan dinikmati. Sebab, di mana Allah hadir, di sana ada suasana surgawi (baca Matius 6:10).
Keempat, jika dengan setia melakukan persekutuan keluarga, terjadilah hubungan akrab dengan Tuhan Yesus. Kalau terjalin hubungan akrab dengan Tuhan Yesus, Ia akan memberikan kepada kita kuat kuasa Roh Kudus,  sehingga kita dapat menanggung semua penderitaan di dunia ini (baca Filipi 4:13).
Kelima, Jika sudah terjalin hubungan akrab dengan Tuhan Yesus, hubungan antara sesama anggota keluargapun menjadi akrab, harmonis dan bahagia.
Tuhan memberkari rumah tangga dan keluarga anda. Amin.

Batam, 18 Juni 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar