Sabtu, 22 April 2017

JANGAN MENGORBANKAN ORANG YANG TIDAK BERDOSA

JANGAN MENGORBANKAN ORANG 

YANG TIDAK BERDOSA

Markus 15 : 1 - 15

Pdt. Sd. Laiya.

 

I. PENGANTAR

Yesus di bawa di hadapan Pilatus. Imam-imam kepala, orang-orang Parisi dan tua-tua bangsa Yahudi telah mengambil keputusan menghukum Yesus dengan hukuman mati.

 

Tetapi karena perihal membunuh dilarang dalam Hukum Taurat maka mereka tidak langsung melaksanakan hukuman mati terhadap Yesus. Karena itu mereka serahkan kepada pemerintah Romami melaksanakan hukuman mati terhadap Yesus. Itulah sebabnya mereka menghadapkan Yesus kepada Pilatus, seorang Wali Negeri Romawi atas negeri Yehuda. Mereka menyampaikan berbagai macam tuduhan kepada Yesus, seperti : melanggar sabbat karena sering menyembuhkan orang sakit pada hari Sabbat; pernah mengatakan bahwa Bait Suci dirobohkan dan dalam tempo tiga hari Ia membangunnya kembali; Ia mengaku diri-Nya Raja (Mesias) dan lain-lain.

 

II. KEPUTUSAN PILATUS

Pilatus melakukan penyelidikan dan penyidikkan atas diri Yesus berdasarkan tuduhan-tuduhan dari para Imam Kepala,orang2 Parisi dan Tua-tua orang Yahudi. Pilatus juga mengirim Yesus kepada Herodes untuk turut memeriksa kesalahan Yesus. Herodes tidak menemukan kesalahan Yesus, lalu disuruh kembali menghadap Pilatus.


Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan Pilatus, ia mengetahui bahwa Yesus diserahkan kepadanya oeleh para pemimpin Yahudi hanya karena dengki (ayat 10). Selain itu Pilatus tiga kali menyatakan bahwa ia tidak menemukan kesalahan pada Yesus. Tetapi orang banyak semakin mendesak Pilatus supaya Yesus harus dihukum mati dan minta supaya membebaskan orang hukuman yang bernama Barabas.


Sekalipun Pilatus sudah mengetahui kebenaran bahwa Yesus tidak bersalah, namun untuk menyenangkan hati orang banyak dan supaya ia tetap bersahabat dengan Kaisar, akhir ia mengambil keputusan : Yesus dihukum mati. Barabas dibebaskan dan Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan (ay 15).

 

III. PENERAPAN

 

Memang sesuai dengan rencana penyelamatan dari Allah Yesus harus mati. Namun kita melihat bahwa begitu jahatnya manusia, sekalipun Yesus tidak bersalah dibiarkan dihukum mati. Apakah pimpinan agama Yahudi, orang-orang Yahudi lainnya, Pilatus dan para tentara Romawi berdosa dengan perbuatan mereka menyiksa dan membunuh Yesus.  Jawabnya : Ya. Mereka berdosa! Dibuktikan dengan ucapan Yesus di atas kayu salim "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk 23:34).


Pada zaman sekarang, tidak jarang yang mengorbankan orang yang tidak bersalah demi kepentingan pribadi atau golongannya. Mengorbankan orang lain bukan hanya dalam bentuk pembunuhan, tetapi juga dalam bentuk kejahatan lainnya seperti : memfitnah orang, menjatuhan orang, mengkriminalisasi orang, bahkan pembunuhan juga sering terjadi.


Sebagai orang percaya, janganlah kita mengorbankan orang lain yang tidak bersalah. Kalau kita sudah tahu kebenaran, marilah kita memertahankan dan memperjuangkan kebenaran itu. Jangan hanya untuk menyenangkan orang lain maka kebenaran harus diinjak-injak dan orang lain menjadi korban. Jika kita sudah pernah berbuat kejahatan seperti itu, marilah kita minta pengampunan dari Tuhan Yesus. Amin.


Jumat, 21 April 2017

DISKRIMINASI

DISKRIMINASI ? 

Siapa takut !

 

I. ARTI DISKRIMINASI

Diskriminasi berarti

perlakuan yang tidak seimbang terhadap

perorangan atau kelompok

berdasarkan sesuatu seperti :

suku, bangsa, budaya, sosial,

ekonomi, agama

kelamin, dal lain-lain.

 

II. DISKRIMINASI DAPAT DILAKUKAN

OLEH SIAPA SAJA

KEPADA SIAPAPUN.

 

Apakah benar demikian?

Kalau tidak benar, berikan alasan.

Dan kalau benar, berikan contoh.


III. CONTOH-CONTOH DISKRIMINASI

DALAM KEHIDUPAN 

SEHARI-HARI.

 

1. Golongan mayoritas sering mengabaikan, menghina,       menjelek-jelekkan, mengintimidasi golongan minoritas. Hal ini sering terjadi baik di tengah-tengah masyarakat maupun di lingkungan pendidikan (sekolah/kampus).

2. Membedakan kelas siswa berprestasi dengan siswa yang bernilai rata-rata.

3. Dalam pelayanan kesehatan, masih dijumpai misalnya : golongan menengah ke atas, lebih dimudahkan proses pelayanan mereka dari pada golongan menengah ke bawah.

4. Dan lain-lain.

 

IV. DASAR HUKUM TENTANG HAK BEBAS

DAN PERLINDUNGAN TERHADAP 

PERBUATAN YANG BERSIFAT 

DISKRIMINATIF.


UUD NKRI 1945 pasal 281 ayat 2

menggariskan bahwa :

 

"Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat

 diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan 

perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif

 itu".


V. UPAYA MENGHADAPI 

DISKRIMINASI.


A. DENGAN MENANTANG, "SIAPA TAKUT" (10 macam).

1. Sikapi diskriminasi sebagai tantangan.

2. Isi otak dengan Ilmu dan isi hati dengan Iman.

3. Ambil makna positip dari setiap masalah yang dihadapi.

4. Pertahankan hakmu dan lakukan kewajibanmu.

5. Akui kekuranganmu dan hargai kelebihan orang lain.

6. Tingkatkan kwalitas imanmu dengan aktif membaca Alkitab.

7. Aktif bergaul kepada siapapun dan percaya diri (p.d.).

8. Kasihi sesama dan rela mengampuni orang lain.

9. Usahakan rendah hati dan kuasai emosi.

10.Tampil beda dari orang lain.


 B. DENGAN "DISKRIMINASI" pertama (12 macam).

1. Damai dengan semua orang.

2. Isi otak dengan Ilmu.

3. Semangat dan santai menghadapi tantangan.

4. Kuasai diri dan emosi.

5. Rendah hati dan rela mengampuni.

6. Isi hati dengan iman.

7. Mengasihi musuh dengan tulus.

8. Ingat kepada Tuhan Yesus yang rela mengampuni musuh.

9. Nyatakan segala pergumulanmu kepada Tuhan Yesus.

10.Aminkan kuasa Tuhan Yesus yang mampu menolongmu.

11.Sikapi setiap persoalan sebagai tantangan.

12.Ikuti Tuhan Yesus dan siap memikul salib setiap hari.


C. DENGAN "DISKRIMINASI" kedua (lima macam).


1. DISkriminasi sikapi sebagai tantangan.

2. KRIstus andalkan, Ia mampu menolongmu.

3. MInta selalu pertolongan Tuhan.

4. NAmpakkan imanmu melalui perbuatanmu.

5. SIap mengikut Yesus dan memikul salib.



Materi Retreat Komisi Pemuda Jemaat BNKP Tabing yang diselenggarakan
tgl. 23-24 April 2017 di Balai Pelatihan dan Kesehatan Hewan Propinsi
Sumatera Barat di Payakumbuh.

Oleh Pdt. Sd. Laiya.



 

 



Jumat, 17 Juni 2016

BIMBINGAN KELUARGA Oleh Pdt. Sudiaro Laiya


MENCIPTAKAN
KEHARMONISAN KELUARGA
Pdt. Sudiaro Laiya


A. APA ITU KELUARGA YANG HARMONIS ?

Keluarga harmonis adalah sebuah keluarga yang hidup dalam suasana rukun dan damai, serta memiliki hubungan yang serasih diantara sesama anggota keluarga (bandingkan Maz 133:1-3).


B. BAGAIMANA MENCIPTAKAN KELUARGA YANG HARMONIS ?

1.        Seia sekata dan seperasaan (I Petr 3:8)

Nats ini berbunyi : “Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati.” Dalam nats ini menunjukkan bagaimana sepatutnya hubungan antar anggota-anggota jemaat, yang juga berlaku dalam kehidupan rumah tangga.

Pertama, “seia sekata.” Artinya, dalam rumah tangga itu tidak ada yang bertindak sendiri-sendiri, atau menurut kehendak masing-masing. Memang kita harus menyadari bahwa dalam keluarga sering terdapat perbedaan pendapat dan pandangan, karena berbeda cara berpikir, namun harus diusahakan secara musyawarah, agar terdapat hal-hal seia sekata. Di dalam hal ini tentu ada yang mengalah, tanpa harus ada yang kalah. Jadi seia sekata sama artinya dengan sehati sepikir, sependirian, sama-sama setuju.Tetapi semuanya adalah di dalam Tuhan.Karena titik tolak untuk mencapai kesepakatan yang sempurna ialah  Tuhan sendiri.

Kedua, “seperasaan.” Contoh, seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam surat Roma 12:15 “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”  Inilah arti yang sebenarnya seperasaan. Jika kita telah dapat sepenanggungan dalam penderitaan, tentu sudah lebih muda seperasaan di dalam sukacita. Kata seperasaan dalam bahasa Yunani, aslinya “simpati.” Dalam rumah tangga, sang suami haruslah menjadi simpatisan pertama terhadap isterinya dan demikian juga sang isteri terhadap suaminya. Perlu kita hindari bersama, agar jangan ada orang lain yang lebih simpati terhadap suami/isteri kita. Kalau kita memiliki rasa simpati dan seperasaan, kita siap mengasihi dan menyayangi dengan tulus. Tanpa adanya rasa simpati dan seperasaan dalam rumah tangga, pasti pandangan kitapun dapat berubah. Dari pandangan positip menjadi negatip, dari jiwa optimis menjadi pesimis. Masalah kecil dapat menjadi masalah besar. Akibatnya terjadi emosi yang tidak terkendalikan, yang merugikan keluarga kita dan pribadi kita sendiri. Keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga hilang. Karena itu marilah kita memelihara rasa simpati dan seperasaan itu dalam keluarga, karena sangat besar manfaatnya bagi semua pihak.

Ketiga, “rendah hati.” Rendah hati berarti menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri (baca Filipi 2:3). Betapa bahagianya rumah tangga itu, kalau sudah terdapat sifat rendah hati pada setiap anggota keluarga. Suami selaku kepala rumah tangga bersikap rendah hati. Sang ibu selaku ibu rumah tangga pun rendah hati. Anak sulung atau anak kedua dan seterusnya sampai kepada anak bungsu, semuanya rendah hati. Sifat menonjolkan diri akan lenyap. Kasih sayang semakin menebal. Damai dan sukacita akan menaungi keluarga yang demikian.Dan
akhirnya makanan pahit pun terasa manis. Kekurangan seseorang, tidak akan mengganggu kerukunan dan keharmonisan dalam keluarga. Inilah keluarga yang harmonis dan bahagia yang dikehendaki Tuhan.    
 
2.      Jangan hanya memperhatikan kepentingan sendiri (Fil 2:4)

Nats itu selengkapnya : “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Seseorang yang hanya mementingkan kepentingan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, ia disebut egois. Kalau masing-masing anggota keluarga mempertahankan egonya, di dalam rumah tangga itu, pasti tidak  terdapat keharmonisan dan kebahagiaan. Guna mencapai keharmonisan dalam keluarga, kita harus bisa memberi jawaban yang tepat dari tiga pertanyaan berikut : (1). Siapa orang pertama yang harus memperhatikan kepentingan isteri? Jawabannya ialah....….. (2). Siapa orang pertama yang harus memperhatikan kepentingan suami? Jawabannya ialah ......…(3). Dan siapakah orang pertama yang harus memperhatikan kepentingan anak-anak? Jawabannya ialah ......... Kalau kita sudah tahu menjawabnya dengan tepat, marilah kita melakukannya. Betapa harmonis dan bahagianya suatu rumah tangga, bila yang demikian dilaksanakan, antara suami dan isteri, antara isteri dan suami serta antara orang tua dan anak-anak.

3.      Orangtua harus menghindari pilih kasih terhadap anak-anak.

Sering terjadi di dalam rumah tangga, orang tua lebih menyukai anak laki-laki dari pada anak perempuan. Atau anak sulung dan anak bungsu lebih disayang dari pada anak-anak lainnya. Atau ayah lebih mengasihi anak yang satu dan ibu lebih mengasihi anak yang lain. Di dalam rumah tangga, orangtua seharusnya memberi perhatian dan kasih sayang yang sama, terhadap semua anak; tidak boleh membeda-bedakan mereka.
Jikalau tidak demikian, pasti akan terjadi kecemburuan, pertengkaran, bahkan permusuhan di antara anak-anak. Salah satu contoh dalam Perjanjian Lama adalah keluarga Ishak dan Ribka. Ishak lebih suka kepada Esau dan Ribka lebih suka kepada Yakub (baca Kej 25:28). Ishak lebih suka memberkati Esau sebelum ia mati, tetapi Ribka lebih menginginkan agar Yakub yang diberkati sebelum ayahnya mati (baca Kej 27: 4 dan 10). Akibatnya Esau marah, dendam dan berencana membunuh Yakub adeknya (baca Kej 27 : 41) dan Yakub terpaksa melarikan diri ke negeri Mesopotamia selama lebih kurang dua puluh tahun. Oleh karena itu, supaya ada kerukunan dan keharmonisan dalam rumah tangga, orangtua harus menghindari pilih kasih terhadap anak-anak mereka.

4.      Orangtua harus bekerjasama mendidik anak dengan baik.

Dalam Amsal 29:15 dan 17 dikatakan : “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya. Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” dan Amsal 22 : 6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”  Dalam mendidik anak perlu diperhatikan dan dihindari : Apa yang dilarang oleh ibu, jangan diperbolehkan oleh Ayah. Apa yang dikecam ayah, jangan disanjung ibu.

5.      Membangun persekutuan dengan Tuhan di dalam rumah tangga.

Persekutuan dengan Tuhan di dalam keluarga adalah waktu dimana seluruh anggota keluarga berkumpul bersama mendekatkan diri kepada Tuhan secara bersama-sama, baik pagi hari maupun malam hari.
Entah itu dengan berdoa bersama, memuji Tuhan bersama, mendengarkan pembacaan Alkitab bersama, merenungkan dan mendiskusikan ayat-ayat Alkitab bersama. Perkumpulan/persekutuan  keluarga seperti itu, sangat diperlukan, karena :

Pertama, Ketika seluruh anggota keluarga berkumpul di dalam nama Tuhan, saat itu juga Allah berkenan hadir di tengah-tengah keluarga itu. Kata Yesus  : “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20).
Kedua, Dengan hadirnya Allah dalam persekutuan keluarga, suasana batin setiap anggota keluarga, diliputi oleh  kuasa Roh Allah.
Ketiga, Jika kuasa Roh Allah ada di dalam setiap pribadi anggota keluarga, lalu berkumpul memuji dan memuliakan Tuhan Yesus, maka suasana sorgawi boleh dialami dan dinikmati. Sebab, di mana Allah hadir, di sana ada suasana surgawi (baca Matius 6:10).
Keempat, jika dengan setia melakukan persekutuan keluarga, terjadilah hubungan akrab dengan Tuhan Yesus. Kalau terjalin hubungan akrab dengan Tuhan Yesus, Ia akan memberikan kepada kita kuat kuasa Roh Kudus,  sehingga kita dapat menanggung semua penderitaan di dunia ini (baca Filipi 4:13).
Kelima, Jika sudah terjalin hubungan akrab dengan Tuhan Yesus, hubungan antara sesama anggota keluargapun menjadi akrab, harmonis dan bahagia.
Tuhan memberkari rumah tangga dan keluarga anda. Amin.

Batam, 18 Juni 2016.